Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menerima kunjungan akademik dari Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam sebuah kegiatan kuliah umum yang penuh makna budaya dan pendekatan psikologis kontekstual. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Balingkang Confucius Institute Undiksha ini menjadi ruang kolaboratif dua institusi untuk mendialogkan praktik konseling yang berakar dari budaya lokal sebagai respon terhadap tantangan kesehatan mental generasi muda saat ini.
Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Dekan FIP Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd., didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Dr. I Komang Sudarma, S.Pd., M.Pd., serta dihadiri jajaran dosen, mahasiswa dan pengelola program studi BK FIP Undiksha. Sementara dari pihak UNS, hadir 70 mahasiswa bersama dosen pendamping dari Prodi BK FKIP. Dalam kegiatan ini dihadirkan dua narasumber pakar dari bidangnya masing-masing.
Narasumber pertama, Prof. Dr. Ni Ketut Suarni, S.Pd., M.Pd., dari BK FIP Undiksha, memaparkan materi bertajuk “Tri Hita Karana: Jembatan Menuju Keharmonisan Universal”. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya menjadikan prinsip-prinsip Tri Hita Karana (hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam) sebagai kerangka filosofis dalam praktik konseling. Menurutnya, Tri Hita Karana tidak hanya merefleksikan nilai-nilai lokal Bali, tetapi juga bersifat universal dan dapat dijadikan dasar untuk membangun kesejahteraan psikologis secara menyeluruh.
“Jika individu belum harmonis dengan dirinya sendiri, maka tiga keharmonisan lainnya juga akan sulit tercapai,” ujarnya. Prof. Suarni menekankan bahwa konseling yang mengabaikan konteks budaya rentan gagal dalam memahami latar belakang permasalahan klien, terutama di masyarakat majemuk seperti Indonesia. Ia mencontohkan konflik antara aturan sekolah dan budaya lokal yang dialami oleh siswa dari komunitas Bali Aga, dan bagaimana pendekatan konseling berbasis budaya dapat menjadi solusi efektif.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Ribut Purwaningrum, S.Pd., M.Pd., dari BK FKIP UNS, menyampaikan materi mengenai “Model Konseling Kawruh Jiwa”, sebuah pendekatan konseling yang dikembangkan dari falsafah Jawa dan pemikiran tokoh Suryomentaram. Dalam paparannya, Dr. Ribut menggarisbawahi bahwa konseling tidak melulu soal teknik Barat, melainkan juga perlu memerhatikan catatan hidup, struktur kepribadian lokal, dan dinamika sosial-budaya yang khas.
Model Kawruh Jiwa mendasarkan praktiknya pada empat dimensi kesadaran individu sebagai pencatat hidup (juru catat), sebagai pemilik prioritas hidup (kromo dongso), sebagai pelaku pemenuhan kebutuhan, dan sebagai manusia tanpa ego (manungso tanpa ciri). Melalui pendekatan ini, konselor diajak untuk tidak hanya memberikan solusi, tetapi membangun dialog reflektif dengan konseling melalui metode kondo-takon (menyampaikan dan bertanya).
Dr. Ribut juga menyinggung tantangan kesehatan mental generasi muda saat ini yang semakin kompleks akibat tekanan media sosial, standar kesuksesan palsu, dan krisis identitas. Ia menawarkan pendekatan Kawruh Jiwa sebagai alternatif berbasis budaya yang relevan dan membumi, utamanya dalam Jawa, namun berpotensi dikembangkan lintas budaya melalui penelitian kolaboratif.
Kegiatan ini tidak hanya mempertemukan dua pendekatan konseling yang berbeda akar budayanya antara Bali dan Jawa Tengah tetapi juga menginisiasi ruang dialog yang potensial untuk integrasi teori-teori konseling berbasis kearifan lokal ke dalam kebijakan pendidikan nasional. Sebagaimana disampaikan Prof. Suarni, model konseling berbasis Tri Hita Karana dan Kawruh Jiwa membuka ruang bagi pendidik dan calon konselor untuk lebih kontekstual, empatik, dan manusiawi dalam praktik profesinya.




