Singaraja – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan kontribusi nyata dan berdampak bagi masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Conflict Social Learning Berbasis Social Imagination dan Regulasi Emosi untuk Meningkatkan Keterampilan Mengajar dan Mereduksi Kasus Bunuh Diri Tahun 2025.”
Program pengabdian ini merupakan upaya konkret FIP Undiksha dalam membantu menekan angka kasus bunuh diri, khususnya di kalangan pelajar, melalui penguatan imajinasi sosial (social imagination) dan regulasi emosi guru dalam proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan di SMP Lab Undiksha dengan melibatkan guru-guru dari SMP Negeri 6 Singaraja dan SMP Lab Undiksha.
Konsep Conflict Social Learning yang diusung dalam program ini mengedepankan pendekatan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk belajar dari situasi konflik sosial, seperti perbedaan pendapat, nilai, hingga kepentingan.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk memahami dan mengelola konflik secara konstruktif, tetapi juga untuk menumbuhkan musyawarah, memperkuat ikatan sosial dan pengembangan kompetensi sosial-emosional. Hal ini sejalan dengan tujuan utama pendidikan karakter yang berkelanjutan.
Ketua program pengabdian, Ida Bagus Putra Manik Aryana, S.S., M.Si., sekaligus pemateri pertama menegaskan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam membangun lingkungan belajar yang empatik dan responsif terhadap kondisi psikososial siswa. Dr. I Wayan Sujana, M.Fil.H selaku pemateri dua menegaskan Penanganan konflik sosial-emosional bukan sekadar teknik pedagogis, melainkan pendekatan kritis untuk mengembalikan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Dekan FIP Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd., dan turut dihadiri oleh para kepala sekolah serta tenaga pendidik dari sekolah mitra. Dalam sambutannya, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., menyampaikan bahwa inisiatif ini menjadi strategi transformatif dalam membentuk siswa yang resilien secara sosial, berpikir kritis, dan siap hidup dalam masyarakat yang majemuk.
Program pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model implementatif yang mampu direplikasi di sekolah-sekolah lain dalam upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat, aman, dan mendukung kesejahteraan mental peserta didik. (hms FIP)




