Singaraja – Di tengah kesibukan menjalani perkuliahan, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) tetap konsisten mengembangkan usaha kuliner rumahan. Melalui brand Yulanda Bakehouse, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling semester 3 ini membuktikan bahwa semangat berwirausaha dapat tumbuh dan bertahan sejak usia dini.
Gadis asal Br. Pohgending Kawan, Pitra, Penebel, Tabanan tersebut telah mengenal dunia jual beli sejak kecil. Ketertarikannya pada wirausaha bermula dari kebiasaan menjual mainan yang sedang tren pada masanya. Pengalaman tersebut berlanjut hingga bangku sekolah dasar dan menengah, ketika ia mulai mencoba berjualan secara daring dengan berbagai jenis produk.
Perjalanan usahanya mulai menemukan arah saat pandemi Covid-19. Di tengah maraknya konten memasak di media sosial, mahasiswi FIP Undiksha ini mulai mencoba berbagai resep di rumah. Meski banyak percobaan yang belum berhasil, proses tersebut justru membantunya menemukan ketertarikan di bidang kuliner.
Respons positif dari lingkungan sekitar menjadi dorongan tersendiri. Unggahan hasil masakan yang dibagikan di media sosial kerap mendapat tanggapan agar produk tersebut dijual. Meski sempat ragu, ia akhirnya memberanikan diri menerima pesanan secara terbatas.
Keseriusan dalam berwirausaha mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMA. Beberapa produk kuliner seperti risol mayo, cromboloni, dan aneka kue mulai dipasarkan. Dari sanalah nama Yulanda Bakehouse dikenal dan menjadi identitas usaha yang terus ia jaga hingga kini.
Saat melanjutkan studi di Undiksha, mahasiswi semester 3 ini memilih untuk tetap mempertahankan usahanya dengan sistem open pre-order. Ia menyesuaikan waktu produksi dengan jadwal perkuliahan agar aktivitas akademik tetap menjadi prioritas. Selain membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah, keberlanjutan brand menjadi alasan utama ia terus berwirausaha.
Hingga saat ini, Yulanda Bakehouse masih dijalankan secara rumahan tanpa toko fisik. Seluruh proses produksi dilakukan sendiri di dapur rumah dengan dukungan keluarga. Produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari donat, milk bun, bolu, hingga pesanan khusus dalam jumlah tertentu sesuai permintaan pelanggan.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah pengelolaan waktu dan tenaga, terutama ketika jumlah pesanan meningkat. Dengan keterbatasan sumber daya manusia, ia kerap harus bekerja dalam waktu yang cukup panjang. Meski demikian, ia tetap berupaya menjaga kualitas produk dan kepercayaan pelanggan.
Melalui usaha yang dijalankannya, mahasiswi FIP Undiksha ini memperoleh banyak pembelajaran, mulai dari memahami selera konsumen, menentukan harga jual, hingga pentingnya konsistensi kualitas. Dukungan dari pelanggan menjadi motivasi untuk terus melakukan evaluasi dan pengembangan usaha.
Ke depan, ia berharap Yulanda Bakehouse dapat semakin dikenal luas dan bertahan dalam jangka panjang. Pengembangan peralatan produksi, penambahan menu baru, hingga rencana merekrut karyawan menjadi bagian dari langkah ke depan, tanpa menghilangkan ciri khas usaha yang telah dibangun.
Kisah ini menjadi cerminan bahwa mahasiswa FIP Undiksha tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga mampu membangun kemandirian dan kreativitas melalui kegiatan kewirausahaan.




