Singaraja — Globalisasi dan perubahan sosial yang memengaruhi perilaku generasi muda, sekolah menghadapi tantangan besar untuk tidak hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Menjawab tantangan tersebut, Undiksha memilih kembali menanamkan nilai-nilai luhur budaya Bali melalui implementasi Asta Brata sebagai bagian dari pembelajaran karakter, membuktikan bahwa kearifan lokal tetap relevan sebagai fondasi pendidikan abad ke-21.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Pembelajaran Berbasis Asta Brata: Penguatan Tujuh Kebiasaan Karakter Siswa Melalui Kearifan Lokal Bali di SDN 1 Astina” yang dilaksanakan pada Senin, 6 Juli 2026. Program ini diketuai oleh Dr. Basilius Redan Werang, S.S., S.Sos., JCL bersama tim pelaksana yang terdiri atas I Wayan Mudana dan Fatimatuz Zahrah. Kegiatan ini melibatkan para guru SDN 1 Astina sebagai peserta utama dengan sasaran akhir guru dan seluruh siswa di sekolah tersebut. Guru diposisikan sebagai agen perubahan yang akan mengintegrasikan nilai-nilai Asta Brata ke dalam pembelajaran sekaligus membangun budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter peserta didik.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian teori atau nasihat di ruang kelas. Karakter tumbuh melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, didukung oleh lingkungan belajar yang memberi teladan nyata. Di sinilah filosofi Asta Brata menjadi relevan. Delapan sifat alam yang terkandung di dalamnya mengajarkan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, tanggung jawab, keteguhan, kejujuran, kepedulian, dan pengabdian yang dapat diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari siswa.
Melalui kegiatan ini, bertujuan menguatkan karakter siswa melalui implementasi nyata Tujuh Pembiasaan Karakter yang dijiwai oleh nilai-nilai Asta Brata. Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui pengenalan tradisi, tetapi juga melalui pewarisan nilai-nilai luhur yang hidup dalam praktik pendidikan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode pelatihan dan pendampingan intensif dalam program “Tujuh Pembiasaan Asta Brata”. Para guru memperoleh penguatan kapasitas dalam memahami konsep Asta Brata sekaligus strategi mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran, pembiasaan di lingkungan sekolah, hingga interaksi sehari-hari dengan peserta didik. Setelah itu, guru didampingi untuk menerapkan pembiasaan tersebut kepada siswa secara berkelanjutan sehingga nilai-nilai karakter berkembang secara alami dalam kehidupan sekolah.
Ketua panitia, Dr. Basilius Redan Werang, S.S., S.Sos., JCL, menegaskan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal bukanlah langkah mundur, melainkan strategi untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan global dengan tetap memiliki identitas budaya yang kuat. Menurutnya, Asta Brata menyimpan nilai-nilai universal yang tetap relevan dalam membentuk karakter peserta didik, mulai dari sikap disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, integritas, hingga kemampuan menjadi pribadi yang bijaksana dalam mengambil keputusan.
Lebih dari sekadar program sekolah, implementasi pembelajaran berbasis Asta Brata juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilannya membentuk manusia yang berkarakter, menghargai budaya, serta mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.
Kegiatan di SDN 1 Astina menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui pendidikan. Ketika nilai-nilai lokal diintegrasikan ke dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya mengenal budayanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Pada akhirnya, pembelajaran berbasis Asta Brata bukan sekadar inovasi dalam proses belajar mengajar, melainkan investasi jangka panjang bagi pembentukan generasi Indonesia yang berkarakter. Di tengah perubahan zaman, karakter yang berpijak pada kearifan lokal menjadi modal penting untuk melahirkan insan yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan jati diri yang kuat. Dari ruang-ruang kelas SDN 1 Astina, pesan itu kembali ditegaskan: masa depan pendidikan Indonesia dapat dibangun dengan tetap berpijak pada akar budayanya sendiri.





