Gianyar, FIP Undiksha — Sebagai upaya menjaga warisan budaya Bali agar tetap hidup di era digital, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha berkolaborasi dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Digitalisasi Seni Mejejahitan: Merangkai Janur sebagai Warisan Budaya dan Produk Ekonomi Kreatif.”
Program ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang didanai oleh Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (BIMA). Kegiatan diketuai oleh Prof. Dr. Maria Goreti Rini Kritiantari, M.Pd., dengan anggota Dr. Dewi Arum Widhiyanti Metra Putri, S.Psi., M.A., M.Psi. Psikolog, Ni Putu Vivin Indrawati, M.Pd., Dr. Ni Luh Desi In Diana Sari, S.Sn., M.Sn., dan Indi Ghozirur Rohman, S.Pd., M.Pd.
Melestarikan Tradisi Melalui Inovasi Digital
Seni mejejahitan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Bali yang memiliki makna simbolik dan nilai estetika tinggi. Melalui kegiatan ini, tim FIP Undiksha berupaya mendigitalisasi proses dan hasil karya mejejahitan agar dapat terdokumentasi dan dipelajari lintas generasi.
“Kami ingin agar tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan beradaptasi dengan kemajuan zaman,” ujar Prof. Dr. Maria Goreti Rini Kritiantari, M.Pd.selaku ketua tim. Beliau menambahkan bahwa dokumentasi digital dan pelatihan pemasaran daring menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan karya budaya kepada masyarakat luas.
Tahapan Pelaksanaan Program
Program yang dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2025 ini berlangsung dalam lima tahapan utama, yaitu:
- Sosialisasi Program kepada Sekaa Serati Desa Adat Tegallalang, desa adat, dan pemangku kepentingan lokal.
- Pelatihan Sosial Kemasyarakatan dan Edukasi Budaya serta Pelatihan Produksi, Manajemen, dan Pemasaran Digital.
- Penerapan Teknologi dan Inovasi dalam dokumentasi serta promosi karya janur.
- Pendampingan dan Evaluasi terhadap hasil pelatihan.
- Keberlanjutan Program agar masyarakat dapat mengembangkan kegiatan secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan dilaksanakan di Banjar Abangan, Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar, dan dibuka oleh Bendesa Adat Banjar Abangan, I Wayan Kerta. Acara turut dihadiri oleh Kelian Adat I Wayan Wirta, Ketua Sekaa Serati Ni Wayan Wartini dan anggota, serta dosen FIP Undiksha.
Apresiasi dari Masyarakat Adat
Kegiatan yang dilaksanakan di Banjar Abangan, Desa Tegalalang ini dibuka secara resmi oleh Bendesa Adat Banjar Abangan, I Wayan Kerta. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi langkah Undiksha yang telah mengangkat kembali tradisi mejejahitan melalui pendekatan inovatif.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim PISN Undiksha. Kegiatan ini sangat bermanfaat. Melalui program ini, tidak hanya menjadi bagian dari upacara, tetapi juga peluang ekonomi yang bagi warga kami,” ujarnya.
Pengempon pura dalem Banjar Abangan Desa Tegalalangan juga menyampaikan rasa terima kasih kepada tim.
“Suksma banget antuk tim PISN Undiksha untuk kegiatan mejejahitan niki. Dumogi kegiatan puniki terus berlanjut,” ujarnya.
Ketua Sekaa Serati juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim PISN Undiksha.
“Tiang mengucapkan terima kasih atas kehadiran adik-adik dan Ibu semua dari Undiksha atas pelaksanaan pelatihan mejejahitan. Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk kita semua,” ujarnya.
Tidak lupa pula Kelian Adat Banjar Abangan Desa Tegalalang menyampaikan dukungan terhadap program ini.
“Tiang mengucapkan banyak terima kasih bisa melaksanakan kerjasama dengan Undiksha untuk melaksanakan pameran dalam rangka pengabdian kepada masyarat sehingga dalam kegiatan ini benar-benar bisa memberikan manfaat yang sangat luar biasa bagi masyarakat kami khususnya sekaa serati dan pemuda karena diselipkan inovasi dalam kegiatan mejejahitan,” ujarnya.
Sinergi Pelestarian dan Pemberdayaan Ekonomi
Melalui program Digitalisasi Seni Mejejahitan, tim FIP Undiksha tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, tetapi juga pemberdayaan masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan produk berbasis tradisi.
Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi model pengabdian berkelanjutan yang menghubungkan dunia akademik, masyarakat, dan teknologi dalam menjaga keberlanjutan budaya Bali di era digital.







