Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang diinisiasi oleh tim dosen Fakultas Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berhasil menghidupkan kembali semangat berkesenian masyarakat Desa Tajun melalui kegiatan bertajuk Panca Nadasvara: Inovasi Pelatihan Tabuh Berbasis Notasi Pentatonis pada Sekeha Gong Mandala Giri Budaya sebagai Upaya Konservasi Seni Karawitan Khas Bali Utara. Kegiatan dirancang berlangsung mulai dari Oktober hingga Desember 2025 ini merupakan bagian dari program nasional yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini dirancang untuk memperkuat keberlanjutan seni budaya lokal serta mengembangkan ekosistem inovasi seni berbasis masyarakat.
Pada program ini, tim pelaksana berkolaborasi dengan Sekeha Gong Mandara Giri Budaya, Pemerintah Desa Tajun, dan Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti dalam mengembangkan pelatihan karawitan, penguatan kelompok seni, serta pelembagaan formal kelompok seni yang berakar pada identitas lokal. Kegiatan ini dikemas dalam beberapa tahapan, meliputi sosialisasi program, pelatihan dan penerapan IPTEKS, pendampingan, serta pertunjukan seni. Seluruh kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan minat, kreativitas, dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya Bali Utara yang khas.
Program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga menghadirkan sentuhan inovasi. Melalui kegiatan yang terstruktur, mitra sasaran diarahkan menjadi lembaga seni formal yang produktif dan berdaya secara ekonomi. Selain itu, pelatihan manajemen dan pemasaran seni diberikan agar kelompok seni mampu mengelola sanggar secara mandiri dan profesional. Tim pelaksana juga memproduksi video pertunjukan dan poster kegiatan sebagai media publikasi, dokumentasi, dan edukasi budaya bagi masyarakat luas.
Perbekel Desa Tajun, I Gede Agustawan, S.H., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program ini. “PISN membawa semangat baru bagi masyarakat kami. Seni saat ini bukanlah sesuatu yang harus ‘dikeramatkan’, tetapi harus dilestarikan, dijadikan bagian dari kehidupan, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman,” ujarnya dalam sambutan pembukaan kegiatan. Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana, I Gede Wahyu Suwela Antara, M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan program ini bertumpu pada partisipasi aktif komunitas dan dukungan pemerintah desa. “Fokus kami bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi membangun sistem regenerasi dan tata kelola kelompok seni yang mandiri,” ungkapnya.
Program ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), serta mendukung Asta Cita dalam penguatan karakter budaya bangsa. Dengan semangat kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah desa, Program Inovasi Seni Nusantara menjadi bukti nyata bahwa seni tradisi dapat bertransformasi menjadi motor penggerak kreativitas, identitas, dan kemandirian komunitas di era modern.





