Singaraja – Di sela aktivitas masyarakat yang akrab dengan laut dan denyut pariwisata pesisir, puluhan pelaku wisata berkumpul membawa semangat baru. Mereka datang bukan untuk mengikuti pelatihan bisnis, melainkan belajar satu hal yang semakin penting di era pariwisata global: bagaimana memperkenalkan identitas Bali Utara kepada wisatawan dunia melalui bahasa.
Bagi masyarakat Anturan, bahasa Inggris bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa menjadi jembatan yang menghubungkan kekayaan budaya lokal dengan wisatawan mancanegara yang setiap hari datang menikmati lumba-lumba, panorama pantai, dan cita rasa kuliner khas Bali Utara. Namun, tidak semua pelaku wisata memiliki kepercayaan diri untuk menjelaskan makanan tradisional, bahan-bahan lokal, maupun filosofi di balik sajian yang mereka tawarkan.
Melihat kebutuhan tersebut, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menghadirkan sebuah inovasi pembelajaran melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “KOSARASA: Kamus Gastronomi Kuliner Bali Utara sebagai Penguatan Vocabulary dan Tourism Communication di Daerah Wisata Anturan”. Program yang dipimpin oleh Luh Gd. Rahayu Budiarta, S.Pd., M.Pd., bersama tim dosen Ketut Herya Darma Utami, S.Pd., M.Pd., dan I Ketut Armawan, S.Pd., M.Pd., tidak sekadar mengajarkan kosakata bahasa Inggris, tetapi membangun kemampuan masyarakat untuk menceritakan kekayaan kuliner daerahnya dengan percaya diri dan penuh makna.
KOSARASA hadir sebagai kamus gastronomi yang dirancang khusus untuk mengenalkan istilah-istilah kuliner khas Bali Utara dalam bahasa Inggris. Lebih dari sekadar daftar kosakata, kamus ini menjadi media belajar yang membantu masyarakat memahami cara menjelaskan nama makanan, bahan baku, proses memasak, cita rasa, hingga nilai budaya yang melekat pada setiap hidangan. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya yang lebih utuh.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti tahapan pembelajaran yang dirancang secara sistematis. Program diawali dengan sosialisasi dan pre-test untuk memetakan kemampuan awal peserta. Selanjutnya, mereka memperoleh pelatihan penggunaan KOSARASA melalui pendekatan literasi gastronomi dan tourism communication. Suasana belajar berlangsung interaktif melalui diskusi, simulasi, praktik percakapan, serta pendampingan langsung oleh tim dosen dan mahasiswa Undiksha. Di akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh.
Pendekatan partisipatif tersebut membuat proses belajar terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Para kapten perahu berlatih menyapa wisatawan asing dengan lebih percaya diri sebelum perjalanan dimulai. Pelaku usaha kuliner mencoba menjelaskan menu tradisional menggunakan bahasa yang mudah dipahami pengunjung mancanegara. Sementara pelaku usaha wisata lainnya belajar membangun komunikasi yang lebih ramah, informatif, dan profesional. Pembelajaran tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi langsung dipraktikkan dalam konteks pelayanan wisata yang mereka jalani setiap hari.
Ketua pelaksana, Luh Gd. Rahayu Budiarta, menegaskan bahwa pendidikan harus hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, peningkatan kemampuan berbahasa Inggris bagi pelaku wisata tidak hanya berdampak pada kualitas pelayanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal. Ketika masyarakat mampu menjelaskan cerita di balik kuliner khas Bali Utara kepada wisatawan asing, mereka sesungguhnya sedang memperkenalkan identitas daerah sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap warisan budaya sendiri.
Program ini juga menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun desa melalui pendidikan yang kontekstual. Kehadiran dosen dan mahasiswa sebagai fasilitator tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun ruang belajar bersama antara kampus dan masyarakat. Kolaborasi tersebut melibatkan kelompok Kapten Nelayan, komunitas Dolphin Tour, pelaku usaha kuliner, pelaku usaha wisata lainnya, serta didukung oleh Kelian Adat dan Pembina BUPDA Desa Anturan.
Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata, daya saing sebuah destinasi tidak lagi ditentukan semata oleh keindahan alamnya. Kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi, menyampaikan cerita, dan mengemas pengalaman budaya menjadi nilai tambah yang semakin penting. Melalui KOSARASA, masyarakat Anturan belajar bahwa setiap hidangan tradisional menyimpan kisah yang layak dikenalkan kepada dunia. Pendidikan pun hadir bukan hanya di ruang kelas, melainkan di tengah kehidupan masyarakat, membantu mereka bertumbuh bersama potensi lokal yang dimiliki.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat melahirkan perubahan yang nyata. Ketika bahasa, budaya, dan pendidikan dipadukan dalam satu gerakan, yang tumbuh bukan hanya kemampuan berbahasa Inggris masyarakat, tetapi juga rasa percaya diri untuk menjadi duta budaya di daerahnya sendiri. Dari Desa Anturan, sebuah pesan sederhana mengalir kepada dunia: kuliner Bali Utara bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang layak diceritakan dalam bahasa apa pun.





