Denpasar — Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha (FIP Undiksha) menyelenggarakan International Visiting Professor & Workshop Series di Undiksha SDP Denpasar. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari pada 26 – 28 Oktober 2026, menghadirkan Profesor Rekha Koul dan Profesor Rachel Sheffield dari Curtin University, Australia. Kegiatan ini diikuti tujuh guru sekolah dasar, sejumlah mahasiswa, dan dosen FIP Undiksha. Workshop memadukan pembelajaran STEM, pembelajaran mendalam atau deep learning, serta asesmen autentik melalui diskusi dan praktik proyek.
Kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme peserta dan narasumber dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini juga dihadiri oleh undangan dosen peneliti, guru SD, serta mahasiswa semester 5 FIP Undiksha. Melalui pertemuan ini, guru, mahasiswa, dan dosen mendapat kesempatan menghubungkan konsep pembelajaran dengan pengalaman praktik. Peserta tidak hanya menyimak pemaparan, tetapi juga terlibat dalam pengerjaan proyek STEM sebagai bahan untuk memahami proses belajar dan penilaiannya.
Dalam pemaparannya, Prof. Rachel Sheffield menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam memiliki tiga pilar, yakni mindful, meaningful, dan joyful. Ketiganya menekankan pentingnya pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Peserta didik perlu memahami tujuan belajarnya, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan, serta memperoleh ruang yang mendukung rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif.
“Terdapat tiga langkah pengalaman belajar, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Pada tahap memahami, peserta didik membangun pemahaman terhadap konsep dan persoalan yang dipelajari. Tahap mengaplikasikan memberi kesempatan menggunakan pemahaman tersebut dalam tugas atau situasi nyata. Selanjutnya, refleksi membantu peserta didik meninjau proses, hasil, kesulitan, dan kemungkinan perbaikan,” ungkap Prof Rachel Sheffield.
Ketiga pilar tersebut menjadi prinsip yang menyertai seluruh langkah pembelajaran. Dengan demikian, kesadaran terhadap tujuan, keterkaitan dengan konteks nyata, dan pengalaman belajar yang menggembirakan perlu hadir sejak proses memahami hingga merefleksikan. Pembahasan ini menjadi landasan bagi peserta untuk mencermati bagaimana proyek STEM dapat dirancang sebagai pengalaman belajar yang utuh.
Dalam sesi praktik, Rachel memandu peserta menggunakan alat dan bahan yang disediakan panitia. Peserta diajak mengerjakan proyek dengan menghubungkan konsep, tindakan, dan penilaian. Proses tersebut memberi kesempatan untuk mengalami langsung bagaimana pemahaman digunakan dalam pengerjaan tugas, kemudian ditinjau kembali melalui refleksi. Pendampingan narasumber juga membuka ruang diskusi mengenai penerapannya dalam pembelajaran.
Sementara itu, Profesor Rekha Koul memberikan penguatan mengenai riset STEM dan peluang pengembangannya dalam pendidikan. Pembahasan mencakup hubungan antara persoalan pembelajaran, fokus penelitian, dan pilihan metode. Pengalaman peserta di sekolah maupun perguruan tinggi menjadi titik awal untuk mengidentifikasi gagasan yang dapat dikembangkan menjadi proposal penelitian STEM sesuai konteks masing-masing.
Asesmen autentik turut menjadi perhatian dalam workshop. Peserta diajak mempertimbangkan bukti belajar yang muncul selama pengerjaan proyek, termasuk pemahaman konsep, keterampilan, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Penilaian diarahkan untuk mencermati proses serta hasil, termasuk kemampuan menjelaskan keputusan. Dengan pendekatan ini, kegiatan membuat produk dihubungkan dengan tujuan pembelajaran dan informasi yang diperlukan untuk memberikan umpan balik.
Kehadiran tujuh guru SD bersama mahasiswa dan dosen mempertemukan pengalaman praktik sekolah dengan perspektif akademik. Antusiasme mewarnai kegiatan ketika peserta mengikuti praktik dan mendiskusikan konsep bersama narasumber. Pertukaran pengalaman tersebut menyediakan ruang untuk mempertimbangkan kebutuhan peserta didik serta penyesuaian kegiatan STEM pada lingkungan belajar yang berbeda.
Sebagai tindak lanjut, rangkaian workshop diarahkan pada penyusunan draf proposal penelitian STEM. Melalui kegiatan ini, FIP Undiksha memperkuat hubungan antara inovasi pembelajaran, pengembangan riset, dan kerja sama internasional. Kolaborasi bersama mitra Curtin University diharapkan berlanjut melalui pendampingan penelitian dan pengembangan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, serta menggembirakan.




