Desa Menyali di Kecamatan Sawan, Buleleng, kini menghadapi kekhawatiran akan punahnya Tari Janger Menyali, sebuah warisan budaya yang pernah mencapai masa kejayaan pada era 1970-an. Minimnya regenerasi penari, semakin menuanya para pelaku seni, serta ketiadaan dokumentasi digital membuat kesenian ini kian jarang dipentaskan dan sulit diwariskan kepada generasi muda. Meskipun sempat direkonstruksi dan tampil pada Pesta Kesenian Bali tahun 2017, Janger Menyali kembali meredup akibat keterbatasan fasilitas, kostum yang tidak lagi memadai, serta belum adanya perlindungan hak cipta atas karya budaya tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, tim pengabdian dari Universitas Pendidikan Ganesha melaksanakan program revitalisasi yang berfokus pada inovasi desain kostum Jipak Parik, pelatihan seni bagi generasi muda, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat dokumentasi dan promosi. Program ini diharapkan dapat menghidupkan kembali Janger Menyali, memperkuat identitas budaya desa, sekaligus membuka ruang kreatif yang lebih luas bagi masyarakat di era modern.
Tim pelaksana terdiri atas Made Aryawan Adijaya, S.Pd., M.Pd., selaku ketua, dengan anggota tim Dr. Dra. I Dewa Ayu Made Budhyani, M.Pd., Dr. Langen Bronto Sutrisno, S.Sn., M.A., dan Luh Sri Surya Wisma Jayanti, S.Pd., M.Pd.
Ketua tim pelaksana, Made Aryawan Adijaya, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pembaruan pada kostum Jipak Parik menjadi salah satu fokus utama karena memiliki nilai estetika dan historis yang kuat. Ia menjelaskan bahwa inovasi dilakukan dengan tetap menjaga pakem tradisi, sambil menyesuaikan kebutuhan pertunjukan masa kini agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda.
Program revitalisasi ini diselenggarakan oleh tim pengabdian Universitas Pendidikan Ganesha dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025, berdasarkan Kontrak Induk Nomor 477/C3/DT.05.00/PM-PISN/2025 dan Kontrak Turunan Nomor 2556/UN48.16/PM.01.01/2025.





