Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan dasar di Bali. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, FIP Undiksha menggelar “Pelatihan Universal Design for Learning (UDL) in Mathematics untuk Guru SD Gugus II Kecamatan Buleleng”.
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan guru dari SD Gugus II yang hadir dengan semangat tinggi. Ketua kegiatan, Kade Sathya Gita Rismawan M.Pd., menyampaikan bahwa pelatihan ini hadir sebagai langkah inovatif untuk menciptakan pembelajaran matematika yang lebih inklusif, adaptif, dan menyenangkan. “UDL memberi ruang bagi guru untuk mendesain pembelajaran yang sesuai dengan keberagaman siswa. Semua anak, baik yang cepat maupun yang butuh pendampingan ekstra, bisa belajar bersama tanpa tertinggal,” jelasnya.
Belajar Matematika dengan Konteks Lokal
Uniknya, pelatihan ini tidak hanya membahas teori UDL, tetapi juga menekankan penerapan langsung dalam konteks kehidupan sehari-hari di Buleleng. Guru diajak merancang perangkat ajar berbasis studi kasus lokal seperti aktivitas di pasar tradisional, pengelolaan pertanian, hingga budaya gotong royong desa. Dengan cara ini, pembelajaran matematika tidak lagi abstrak, tetapi dekat dengan keseharian siswa dan lebih mudah dipahami.
Sepanjang kegiatan, guru peserta tampak aktif berdiskusi, berlatih membuat perangkat ajar, hingga melakukan simulasi pembelajaran di depan rekan sejawat. Banyak guru mengaku UDL membuka wawasan baru. “Biasanya matematika terasa kaku dan membosankan. Dengan UDL, saya jadi punya cara untuk melibatkan semua siswa, bahkan yang biasanya pasif bisa ikut berpartisipasi,” ungkap salah satu guru peserta.
Bagian dari Program Berkelanjutan
Pelatihan UDL ini bukan kegiatan tunggal. FIP Undiksha sebelumnya telah menyelenggarakan berbagai program peningkatan kompetensi guru, seperti pelatihan unplugged coding dan literasi digital. Dengan demikian, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program berkelanjutan yang bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam menghadirkan pembelajaran inovatif dan relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Dekan FIP Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan seperti ini akan terus digalakkan agar pendidikan dasar di Bali semakin adaptif terhadap perkembangan zaman. “Transformasi pendidikan inklusif tidak hanya tentang teknologi canggih, tetapi juga bagaimana guru mampu merancang pembelajaran yang berpihak pada semua siswa. Dari ruang kelas sederhana di Buleleng, kita bisa menanamkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Dari Buleleng untuk Pendidikan Inklusif dan Berdaya Saing
Dengan pendekatan yang membumi dan berpihak pada keberagaman siswa, FIP Undiksha menunjukkan bahwa perubahan pendidikan dapat dimulai dari guru yang berani berinovasi. Program pelatihan UDL ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk mengembangkan pembelajaran yang inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan. Dari Buleleng, Undiksha terus berkontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dasar yang progresif, adaptif, dan berdaya saing global.
Kegiatan ini juga selaras dengan Asta Cita, khususnya pada penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesetaraan gender, serta peran pemuda dan penyandang disabilitas. Lebih jauh, program ini mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin Pendidikan Berkualitas, sehingga berpotensi menjadi model pengembangan pendidikan inklusif yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.





