Singaraja – Budaya lokal tidak hanya menjadi warisan yang dipertahankan, tetapi juga dapat menjadi media untuk belajar dan mengenal diri. Hal inilah yang dihadirkan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Pendidikan Ganesha melalui Program Ksatria Dharma di Panti Asuhan Narayan Seva, Kabupaten Buleleng.
Program ini memanfaatkan Wayang Kulit Satira Edukatif (Cenk Blonk) sebagai media utama dalam mendukung psychological well-being remaja. Melalui cerita, karakter, dan nilai kehidupan yang disampaikan dalam wayang, remaja diajak untuk memahami berbagai situasi kehidupan sekaligus merefleksikan pengalaman dan diri mereka sendiri.
Penggunaan wayang kemudian dipadukan dengan expressive writing, psikodrama, dan aktivitas seni kreatif lainnya. Remaja tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat dalam proses berdiskusi, mengeksplorasi karakter dan peran, menyusun cerita, hingga menampilkan hasilnya melalui Ksatria Show. Rangkaian ini menjadi ruang bagi mereka untuk berekspresi, membangun kepercayaan diri, bekerja sama, serta mengembangkan keberanian untuk menyampaikan gagasan.
Dengan menjadikan Wayang Kulit Cenk Blonk sebagai media psikoedukasi, Ksatria Dharma berupaya menghadirkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan dan budaya remaja di Bali. Seni pertunjukan kemudian tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai, membuka ruang refleksi, dan mendukung proses pengembangan diri. Sebagai keberlanjutan program, tim menghasilkan Ksatria Guide Book yang dapat dimanfaatkan mitra sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan setelah program berakhir.




