Singaraja – Di tengah semangat menempuh pendidikan, kabar bencana dari kampung halaman menjadi ujian tersendiri bagi mahasiswa perantau. Hal itu dirasakan Elvia Nasda Br Ginting, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) angkatan 2024, yang berasal dari Medan, Sumatra Utara. Saat banjir besar melanda wilayah asalnya, Elvia harus menghadapi dilema antara kekhawatiran terhadap keluarga dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.
Elvia menceritakan bahwa kondisi di kampung halamannya saat banjir cukup memprihatinkan. Banyak barang milik warga terendam air, termasuk milik keluarganya. Meski demikian, orang tua Elvia sempat memilih tidak langsung memberi kabar agar ia tidak terlalu memikirkan keadaan di rumah dan tetap fokus menjalani perkuliahan.
“Waktu tahu, saya panik. Pasti kepikiran ke rumah karena jaraknya jauh dan saya tidak bisa apa-apa,” ungkapnya. Perasaan itu semakin berat karena ia harus tetap menjalani aktivitas kuliah seperti biasa, sementara pikirannya tertuju pada kondisi keluarga. Hal yang paling membekas baginya adalah rasa cemas yang terus datang, meski berusaha disembunyikan.
Dalam situasi tersebut, komunikasi dengan keluarga menjadi penguat utama. Setelah sempat berbincang dengan ibunya melalui telepon, Elvia perlahan menenangkan diri. “Ibu saya menyuruh saya berdoa dan tetap tenang. Katanya mereka tidak kenapa-kenapa,” tuturnya. Pesan sederhana itu menjadi pegangan Elvia untuk tetap bertahan dan melanjutkan studinya hingga saat ini. Keputusan Elvia untuk kuliah jauh dari rumah bukan tanpa alasan. Ia ingin belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan mendapatkan pengalaman hidup yang lebih luas.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar yang ia rasakan. Elvia mengaku orang tuanya selalu mendorongnya untuk terus berjuang dan menyelesaikan pendidikan dengan baik. Ada satu perasaan yang terus memotivasinya, yakni keengganan untuk pulang tanpa hasil setelah pengorbanan yang telah dilakukan.
Ke depan, Elvia berharap bantuan bagi masyarakat terdampak banjir di daerah asalnya dapat segera tersalurkan. Ia juga menyampaikan pesan kepada sesama mahasiswa yang mungkin tengah berada dalam situasi sulit, jauh dari keluarga, atau menghadapi kondisi serupa. “Tetap semangat dan banyak berdoa. Minta hikmat, ketabahan, dan damai sejahtera kepada Yang Kuasa,” pesannya.
Kisah Elvia menjadi potret keteguhan mahasiswa perantau yang tetap memilih melangkah, meski diuji oleh jarak, bencana, dan rasa rindu terhadap keluarga. Sebuah pengingat bahwa di balik bangku kuliah, ada perjuangan sunyi yang tak selalu terlihat. (hms)




