Singaraja, 3 Oktober 2025 — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan inovasi pendidikan berbasis kearifan lokal. Melalui kegiatan Pelatihan Pengembangan Media Interaktif Berbasis Augmented Reality (AR) dalam Pengenalan Budaya Bali untuk Siswa Sekolah Dasar, tim FIP Undiksha berupaya memperkuat literasi budaya sejak dini sekaligus menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna.
Kegiatan yang diselenggarakan di Gugus II Kecamatan Buleleng ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berakar pada nilai-nilai lokal, terutama dalam pelestarian aksara, bahasa, dan sastra Bali. Dengan memadukan teknologi Augmented Reality (AR) dan muatan budaya daerah, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya Bali di kalangan generasi muda.
Program ini diketuai oleh Dr. Drs. I Ketut Supir, M.Hum., yang menjelaskan bahwa literasi baca tulis Bahasa Bali merupakan pondasi penting dalam menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Menurutnya, guru memiliki peran strategis sebagai fasilitator, penggerak, sekaligus teladan dalam mengembangkan budaya literasi di sekolah.
Kegiatan pelatihan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan II FIP Undiksha, Prof. Dr. I Komang Sudarma, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi terhadap program pengabdian ini dan menegaskan pentingnya sinergi antara teknologi dan kearifan lokal. Beliau berharap melalui pelatihan ini, guru diharapkan mampu mengembangkan media pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan kontekstual sehingga literasi Bahasa Bali harus terus hidup di tengah perkembangan teknologi,
Para peserta, yang terdiri dari guru-guru di Gugus II Kecamatan Buleleng, terlihat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan. Mereka mendapatkan pendampingan langsung dalam pembuatan media interaktif berbasis AR yang memuat konten budaya Bali, seperti pengenalan aksara Bali, simbol-simbol budaya, serta cerita rakyat yang mengandung nilai moral dan karakter lokal.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap lahir inovasi pembelajaran yang mampu memperkaya pengalaman belajar siswa serta memperkuat identitas budaya sejak dini. Ke depan, FIP Undiksha berencana memperluas jangkauan program serupa ke gugus sekolah lainnya agar lebih banyak guru dapat berpartisipasi dan berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya melalui inovasi digital. Dengan demikian, pendidikan berbasis budaya tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hidup dan relevan dalam praktik pembelajaran di sekolah dasar. (Hms FIP)





