Singaraja – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan, Senin (29/09/2025). Kegiatan ini mengangkat topik “Phenomenon Based Learning (PBL) Berpendekatan Technohumanistic untuk Meningkatkan Kompetensi Risk Management & Creative Design ditinjau dari Open Mindset Siswa.”
FGD yang berlangsung di Ruang Seminar FIP B ini dipimpin langsung oleh Ketua Peneliti, Prof. Dr. I Gede Wawan Sudatha, S.Pd., M.Pd. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya pendidikan yang adaptif untuk mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045 dan Asta Cita ke-4, khususnya dalam menyiapkan generasi yang unggul, tangguh, dan mampu berinovasi di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Melalui FGD ini, Prof. Wawan menyampaikan hasil investigasi awal penelitian yang melibatkan 130 siswa sekolah dasar mitra FIP Undiksha. Hasil temuan menunjukkan bahwa siswa memiliki kekuatan pada kemampuan dasar, seperti mengenali risiko sederhana dan melakukan observasi fenomena. Namun demikian, masih terdapat kelemahan dalam hal analisis risiko kompleks, ideasi, pembuatan prototipe, hingga evaluasi karya kreatif. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara keterampilan dasar yang cukup kuat dengan keterampilan lanjutan yang masih lemah.
Para guru sekolah dasar yang hadir dalam FGD ini turut memberikan masukan berharga terkait fenomena nyata yang dialami siswa di lapangan. Salah satu permasalahan yang diangkat adalah kecenderungan siswa memiliki mindset tertutup, kurang berani bereksperimen, serta terbatas pada aktivitas kreatif yang bersifat reproduktif. Padahal, untuk menghadapi era teknologi yang terus bergerak maju, keterampilan berpikir kritis, manajemen risiko, serta kreativitas desain menjadi hal yang mutlak diperlukan.
Sebagai arah solusi, tim peneliti menawarkan rancangan model Phenomenon Based Learning berpendekatan Technohumanistic. Model ini menekankan pada tiga tahapan utama; menghadirkan fenomena nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, memfasilitasi analisis risiko dan desain kreatif, serta menumbuhkan nilai kemanusiaan melalui kolaborasi. Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya mampu mengenali risiko sederhana, tetapi juga berani mengeksplorasi ide baru, menguji prototipe, dan melakukan evaluasi karya secara berkelanjutan.





