Singaraja – Kemampuan mengelola emosi, membangun empati, dan menjalin hubungan sosial yang sehat kini menjadi bagian penting dalam pembelajaran di sekolah. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat berupa Pelatihan dan Pendampingan Social Emotional Learning (SEL) bagi para guru di SD Negeri 3 Banjar Tegal. Program yang berlangsung sejak Mei hingga Juli 2026 ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kompetensi guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membangun karakter peserta didik.
Program ini diketuai oleh Ni Wayan Eka Widiastini, S.Pd., M.Pd. bersama tim yang terdiri atas Dr. Putu Nanci Riastini, S.Pd., M.Pd., Dr. I Gede Astawan, S.Pd., M.Pd., I Wayan Ardana, M.Pd., dan Ni Made Dainivitri Sinta Sari, M.Pd. Kegiatan melibatkan sepuluh guru SD Negeri 3 Banjar Tegal sebagai peserta sekaligus mitra dalam mengembangkan praktik pembelajaran berbasis Social Emotional Learning di sekolah.
Ketua tim pengabdian, Ni Wayan Eka Widiastini, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan guru dalam mengintegrasikan aspek sosial dan emosional ke dalam proses pembelajaran. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak lagi hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan peserta didik mengenali dan mengelola emosi, menunjukkan empati, bekerja sama, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab. “Guru memiliki peran sentral dalam membentuk iklim belajar yang positif. Melalui pelatihan dan pendampingan ini, kami ingin membantu guru memahami konsep Social Emotional Learning sekaligus mampu menerapkannya secara nyata dalam setiap proses pembelajaran,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan mengacu pada model pengembangan profesional guru yang dikemukakan oleh Joyce dan Showers. Pendekatan tersebut memadukan seminar, demonstrasi, ceramah, tanya jawab, diskusi, hingga pendampingan praktik sehingga peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran berbasis SEL.
Selama pendampingan, para guru menyusun perangkat ajar yang mengintegrasikan kompetensi sosial dan emosional, melaksanakan praktik micro teaching, kemudian mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas dengan pendampingan tim pengabdi. Proses ini memberikan ruang bagi guru untuk merefleksikan praktik mengajar, memperoleh umpan balik, dan menyempurnakan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Diskusi yang berlangsung aktif menunjukkan tingginya kesadaran guru akan pentingnya menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis dan berpusat pada peserta didik. Bagi para guru, Social Emotional Learning menjadi pendekatan yang relevan untuk menciptakan suasana belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuhnya karakter positif di lingkungan sekolah.
Melalui program ini, FIP Undiksha tidak hanya menghadirkan pelatihan, tetapi juga membangun kemitraan dengan sekolah dalam mengembangkan inovasi pembelajaran yang berkelanjutan. Pendampingan yang dilakukan diharapkan mampu mendorong lahirnya praktik-praktik pembelajaran yang lebih adaptif terhadap tantangan pendidikan abad ke-21, sekaligus memperkuat peran guru sebagai fasilitator yang mampu mengembangkan kecerdasan akademik, sosial, dan emosional peserta didik secara seimbang.





