Singaraja – Sebuah langkah nyata dan sigap dilakukan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dalam menjawab darurat literasi yang tengah melanda Buleleng. Menyikapi data mengejutkan dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Buleleng yang mengungkapkan sekitar 400 siswa dari 60 SMP masih belum lancar membaca, FIP Undiksha segera membentuk Tim Pendamping Intervensi Klinis untuk turun tangan langsung di lapangan.
Data tersebut mengungkap bahwa sejumlah siswa bahkan masih mengalami kesulitan dasar dalam calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Kondisi ini menjadi alarm keras di tengah gencarnya upaya peningkatan mutu pendidikan di wilayah Bali Utara.
“Kami merasa ini adalah panggilan hati. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif, dan kami di FIP Undiksha ingin hadir bukan hanya sebagai pengamat, tapi sebagai bagian dari solusi,” tegas Dr. I Wayan Widiana, M.Pd., Dekan FIP Undiksha.
Tim pendamping terdiri dari dosen dan mahasiswa program studi di lingkungan FIP yang memiliki kompetensi khusus dalam pendidikan dasar dan intervensi belajar. Mereka akan diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk melakukan pendampingan secara intensif melalui pendekatan intervensi klinis edukatif—metode yang bersifat individual, terukur, dan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing siswa.
Program ini akan dijalankan selama maksimal delapan bulan, dan tak hanya menyasar peningkatan kemampuan calistung siswa, tetapi juga membangun sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, hingga orang tua siswa. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih suportif dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, inisiatif ini merepresentasikan semangat tridarma perguruan tinggi yang sejati. Harapannya, program ini tidak hanya mampu meningkatkan kemampuan dasar siswa, tetapi juga menekan angka putus sekolah yang sering kali dipicu oleh kesenjangan literasi.
Langkah FIP Undiksha ini pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak sebagai bentuk konkret kepedulian akademisi terhadap akar permasalahan pendidikan. Jika berjalan dengan baik, model intervensi ini bahkan berpotensi direplikasi ke daerah lain di Bali maupun luar daerah.




