SILENT WOUNDS: MENGKAJI HUBUNGAN ANTARA SELF-INJURY DAN DAN FAKTOR PSIKOSOSIAL DENGAN KESEJAHTERAAN MENTAL ISISWA KORBAN BULLYING DI KOTA SINGARAJA

  Publish 5 Oktober 2025       Humas FIP 

Di kalangan remaja saat ini, banyak yang menampilkan senyuman lebar, namun di baliknya tersimpan luka batin yang tersembunyi, terutama pada mereka yang menjadi korban dari perilaku tidak terpuji seperti bullying. Menyadari pentingnya isu tersebut, tim mahasiswa PKM-RSH Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan dan kesehatan mental generasi muda melalui pelaksanaan riset bertajuk “Silent Wounds: Mengkaji Hubungan antara Self-Injury dan Faktor Psikososial dengan Kesejahteraan Mental Siswa Korban Bullying di Kota Singaraja.” Tim ini diketuai oleh Ni Wayan Septiari dari Program Studi Bimbingan dan Konseling, dengan anggota tim Made Senja Darma Pratiwi dan Cindy Zahwa Salsabila Wiyono dari Program Studi Bimbingan dan Konseling, Kadek Indah Ari Artini dari Program Studi Ilmu Hukum, serta Putri Intan Pratiwi dari Program Studi Pendidikan Sosiologi dengan Dosen Pendamping Dr. Putu Ari Dharmayanti, S.Pd., M.Pd.

Penelitian ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin maraknya fenomena self-injury atau perilaku menyakiti diri sendiri di kalangan remaja, khususnya siswa SMP, SMA, dan SMK yang menghadapi tekanan akademik, tuntutan sosial, maupun perundungan di lingkungan sekolah.

Self-injury dipahami sebagai perilaku melukai diri sendiri secara sengaja yang umumnya dilakukan sebagai bentuk pelampiasan emosi negatif akibat tekanan psikologis. Fenomena ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga menandakan masih lemahnya sistem dukungan kesehatan mental di kalangan remaja. Berdasarkan wawancara dengan guru bimbingan konseling dan hasil kuesioner, ditemukan bahwa sebagian siswa di Kota Singaraja pernah melakukan self-injury, meskipun sering kali tersembunyi karena stigma sosial. Temuan ini mengungkap adanya silent wounds atau luka yang tidak terlihat, namun nyata dirasakan oleh siswa korban bullying

Penelitian ini menggunakan penelitian Korelasi. Tahap kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner untuk mengukur hubungan antara bullying, faktor psikososial, dan kesejahteraan mental siswa. Sementara itu, tahap kualitatif dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan siswa maupun guru untuk menggali lebih dalam persepsi mereka tentang fenomena self-injury. Dengan pendekatan tersebut, tim berhasil mengungkap data faktual sekaligus pemahaman yang lebih luas mengenai pengalaman siswa yang menjadi korban bullying

Berdasarkan Hasil riset, kegiatan yang di laksanakan dari bulan Juli hingga September menunjukkan adanya hubungan yang erat antara bullying, faktor psikososial, dan self-injury. Penelitian ini menunjukkan bahwa self-injury dan faktor psikososial akibat bullying memiliki hubungan signifikan dengan kesejahteraan mental siswa. Selain itu, perilaku self-injury umumnya berkorelasi dengan penurunan kondisi psikologis, seperti meningkatnya stres, depresi, dan perasaan terasing. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh tersebut tidak cukup kuat secara statistik. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya faktor lain yang lebih dominan dalam memediasi dampak self-injury terhadap kesejahteraan mental, misalnya dukungan keluarga, keterlibatan teman sebaya, maupun kemampuan regulasi emosi yang dimiliki siswa. Sebaliknya, faktor psikososial akibat bullying terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan mental siswa

Bagi siswa, dukungan keluarga, kualitas pertemanan, tekanan akademik, dan lingkungan sekolah merupakan faktor penting yang memengaruhi kemampuan mereka dalam menghadapi stres. Siswa yang mendapatkan dukungan emosional dari keluarga maupun teman umumnya memiliki kesejahteraan mental yang lebih baik. Sebaliknya, siswa yang kurang memperoleh dukungan cenderung lebih rentan mengalami kecemasan, stres, serta perasaan terisolasi dari lingkungan sosialnya.

Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian Undiksha terhadap isu kesehatan mental remaja, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan strategi intervensi konseling sekolah yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, Undiksha menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi akademik yang aplikatif, kontekstual, dan berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan mental siswa di Kota Singaraja.

Kategori: 

Kata Kunci: 

    Publikasi Terkait: 

    30 Juli 2026

    FIP Undiksha Dukung Inovasi Industri Kreatif melalui Program “Parametrika Batik Buleleng” bagi Penenun Lokal Desa Pacung

    Singaraja — Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri kreatif berbasis kearifan […]
    30 Juli 2026

    FIP Undiksha Dampingi Guru SD Perkuat Konsep Matematika melalui Pembelajaran Berbasis Citizen Science

    Singaraja — Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) sebagai wujud komitmen dalam […]
    30 Juli 2026

    FIP Undiksha Hadirkan “Senam Senang Hati” untuk Perkuat Ketahanan Mental dan Regulasi Emosi Siswa Sekolah Dasar

    Singaraja — Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui pelaksanaan […]
    30 Juli 2026

    Membangun Karakter Lewat Budaya Lokal: FIP Undiksha Implementasikan Pembelajaran Berbasis Asta Brata di SDN 1 Astina

    Singaraja — Globalisasi dan perubahan sosial yang memengaruhi perilaku generasi muda, sekolah menghadapi tantangan besar untuk tidak hanya mencetak peserta […]